Di Depan Presiden Bank Dunia Luhut Bilang Indonesia Tak Perlu ‘Diceramahin’ 

indopos.co.id – Dalam kunjungannya ke Washington DC Amerika Serikat, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan melakukan serangkaian kegiatan pertemuan dengan sejumlah tokoh penting di sana. Dalam pertemuan itu, pihak Luhut dan pihak yang ditemui membicarakan berbagai peluang investasi di Indonesia.
Dalam kunjungan ke AS itu, tercatat Luhut menemui CEO Conservation International M. Sanjayan, Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, President of World Bank David Malpass dan United States Trade Representatives (USTR) Robert Lighthizer.
Baca Juga :
Dalam serangkaian pertemuan itu, Luhut mengaku mendapat respon yang baik. Misalnya saat menemui CEO CI M. Sanjayan, keduanya membahas peluang co-funding bersama untuk program konservasi dan restorasi untuk kredit karbon baik di kawasan pesisir dan darat. Kepada Luhut, Sanjayan mengakui kalau Indonesia merupakan negara kunci karena aset hutan yang dimiliki. Namun, ia menyebut Indonesia sebagai yang terbaik dalam menangani aset tersebut, di samping Brazil, Republik Demokratik Kongo.
Baca Juga :
Sedangkan saat menemui MD IMF dan Presiden World Bank, Luhut menjelaskan penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia, pemulihan ekonomi nasional, dan upaya Indonesia untuk menjaga serta memperbaiki kondisi lingkungan hidup.
Kepada Presiden Bank Dunia, Luhut berharap Bank Dunia mau membantu Indonesia dalam program rehabilitasi mangrove yang akan dijalankan di 600 ribu hektar lahan dalam empat tahun ke depan.
”Mereka tanya apa yang bisa dibantu, saya bilang, ’Kalian bantu kami di mangrove saja. Kami punya program 600 ribu hektar replanting program dan itu adalah the largest mangrove replanting program in the world’ (program penanaman kembali mangrove terbesar di dunia),” kata Luhut dalam sebuah diskusi webinar, Selasa (17/11/2020).
Ia menuturkan, dalam pertemuan itu ia dengan tegas mengatakan bahwa program-program tersebut dibuat demi masa depan generasi Indonesia. ”Jadi saya katakan ’Kami jangan sekadar hanya untuk menyenangkan kalian. Jadi kalian juga jangan merasa kami ini harus menservice kalian. Yang pertama (jadi perhatian) adalah generasi yang akan datang. Saya kira message (pesan) itu very clear (sangat jelas),” tutur Luhut menceritakan pertemuannya dengan pihak Bank Dunia itu.
Dalam pertemuan dengan Bank Dunia itu, Luhut juga mengatakan agar dunia tak perlu menceramahi Indonesia soal masalah lingkungan, seakan Indonesia adalah negara yang tidak disiplin atau kurang memperhatikan masalah lingkungan.
”Jadi saya bilang, kalian gak usah lecturing (menceramahi) kami mengenai masalah lingkungan. Karena saya beri contoh, tahun 2015 kami tangani kebakaran hutan ada 2 juta hektar yang terbakar. Tapi Amerika terbakar 4 juta hektar, Australia 6 juta hektar, dan kalian gak pernah ribut. Jadi diplomasi itu straightforward (tegas), namun  dengan humble tone (nada yang rendah hati),” tandas Luhut.
Sayangnya dalam agenda Luhut ke AS, tidak disebutkan ada agenda pertemuan Luhut dengan bos Tesla Elon Musk dalam kunjungannya ke AS. Padahal diberitahukan sebelumnya bahwa Presiden Joko Widodo akan mengutus Luhut untuk menemui CEO Tesla Elon Musk guna membahas peluang kerjasama pengembangan mobil listrik di Indonesia. (ind)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.