Lewat November

Oleh : Dahlan Iskan

indopos.co.id – Kelihatannya November akan berlalu tanpa vaksin Covid-19. Barangnya belum datang. Tentu vaksinasi juga belum bisa dimulai kalau belum ada lampu hijau dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)–yang berwenang menguji keamanan makanan dan obat-obatan.

Baca Juga :

Desember 2020 pun kelihatannya belum bisa. Uji coba tahap tiga vaksin Sinovac di Bandung itu memang sudah selesai. Tapi perlu pengamatan tiga bulan atas 1.600 orang yang dijadikan uji coba itu.

Berarti paling cepat, menurut hitungan saya, baru bisa dimulai akhir Januari 2021.
Dan lagi barangnya juga belum tiba di Indonesia kan? Belum ada keterangan mengapa belum tiba. Mungkin karena batas November 2020 kan masih 10 hari. Belum waktunya kita bilang ”katanya November sudah masuk ke Indonesia”. Belum lagi kalau masih ada masalah teknis atau administratif. Ini urusan besar dan rumit. Tidak semudah kalau mendatangkan gadis pijat dari sana.

Juga siapa tahu tawar menawar harganya masih harus dilanjutkan. Atau jangan-jangan pembayarannya belum lunas, misalnya, karena masih cari pinjaman.

Buka saja seluas-luasnya apa yang terjadi. Biar harapan besar pada vaksinasi ini terus terpelihara. Pemerintah sudah dinilai sangat cepat mengambil langkah vaksinasi ini. Biarlah penilaian itu tetap positif.

Baca Juga :

Vaksin

Yang jelas BPOM sudah menyatakan, secara kualitas, vaksin Sinovac itu tidak ada masalah lagi. Delegasi BPOM juga sudah ke Tiongkok. Mereka melihat langsung proses pembuatannya di sana.

Mestinya vaksin itu bisa masuk ke Indonesia sambil menunggu lampu hijau dari BPOM. Dengan begitu, banyak pekerjaan persiapan bisa dilakukan di dalam negeri. Kecuali, yang seperti itu tidak boleh.

Ketika masuk ke Indonesia nanti wujud vaksin itu adalah bulk –masih seperti ”tepung” — dalam jumlah besar. Di Bandung lah, di Grup BUMN Biofarma, ”tepung” itu dimasukkan ke botol-botol kecil. Lalu dimasukkan bungkus boks kecil. Semoga bungkusnya itu buatan Indonesia. Pakai karton Indonesia. Dicetak di percetakan Indonesia. Semoga jarum suntiknya buatan Indonesia. Semoga pula botolnya juga begitu.

Berarti memang ada proses pekerjaan besar di Indonesia. Bayangkan jumlah yang dibotolkan itu bisa mencapai 350 juta botol. Ini bisnis skala gajah bengkak. Bisnis ini tidak akan tersentuh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) maupun Kejaksaan Agung karena bisa berlindung di UU baru.

Begitu banyak jumlah yang harus diproduksi. Itu karena vaksinasi ini harus dilakukan dua kali. Suntikan kedua dilakukan sebulan setelah yang pertama.

Jadi, ada botol untuk vaksinasi pertama. Tugasnya adalah memunculkan imun. Lalu ada botol kedua. Tugasnya mem-booster imun itu.

Di seluruh dunia, vaksinasi Covid-19 memang menghadapi dua problem besar itu:, yaitu masalah teknis distribusi dan masalah politik antivaksinasi.

Mundurnya jadwal vaksinasi ke Januari atau Februari 2021 berarti mundur pula harapan pemulihan ekonomi. Istilah ”mundur” itu dari saya. Di mata pemerintah mungkin tidak bisa disebut mundur. Saya tidak tahu target waktu yang ditetapkan pemerintah. Anda tahu?

BPOM menyebut, pengamatan terhadap 1.600 orang relawan uji coba itu diperlukan untuk melihat apakah ada efek samping. Juga apakah vaksin ini benar-benar efektif.

Untuk melihat efek samping tentu mudah. Apakah ada keluhan yang dialami 1.600 orang itu. Sejauh ini disebutkan ”tidak ada”.

Untuk melihat efektif atau tidak bisa dilihat di lab. Apakah anti-Covidnya sudah muncul. Kalau sudah muncul, apakah jumlahnya cukup untuk melawan masuknya virus selama satu tahun.

Pengamatan itulah yang memerlukan waktu. Ada pengamatan tiga bulan. Ada pengamatan enam bulan. Kalau BPOM mengatakan cukup tiga bulan berarti izin penggunaan secara darurat bisa dikeluarkan pada Januari 2021. Kalau harus enam bulan berarti April.

Prosedur ini tidak bisa dicarikan jalan pintas. Ini menyangkut keselamatan manusia meskipun kecepatan proses itu juga untuk keselamatan manusia.

”Hukum besi” BPOM seperti itulah yang membuat obat temuan Universitas Airlangga tidak bisa segera diedarkan. Padahal ada Angkatan Darat dan Badan Intelijen Negara (BIN) di baliknya.

BPOM bisa ”dipecat” oleh WHO (World Health Organization) atau Badan Kesehatan Dunia kalau sampai tunduk pada tekanan apa pun. Dulu, melihat gegap gempitanya keterangan pemerintah, saya kira akhir November 2020 vaksinasi sudah bisa dimulai.

Kadang terlalu optimistis itu juga kurang baik. Orang bisa kecewa. Dan itu salah sendiri.
Dulu saya juga berpikir tidak ada pilihan lain. Ternyata Minggu ini beredar dua berita penting. Vaksin dari Amerika dan dari Inggris sudah terbukti punya efektivitas sampai 95 persen. Anda tentu sudah membaca itu, Pfizer dan Astra itu.

Bahkan berita itu bisa bikin lebih lega orang tua seperti saya. Efektif untuk orang berumur di atas 70 tahun.

Selama ini orang tua –yang justru lebih rentan Covid– harus menerima dengan lapang dada atas ketuaannya. Sebab, vaksin Sinovac itu hanya untuk yang berumur 18-59 tahun.

Kini orang tua pun bisa berharap lebih tua lagi lewat vaksin Eropa dan Amerika itu. Hidup orang tua! (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.