Alexa Metrics

Komunitas Ciliwung Condet Rawat Sungai dan Cagar Buah-Buahan 

Komunitas Ciliwung Condet Rawat Sungai dan Cagar Buah-Buahan  Abdul Kodir, 50, warga Condet, Jakarta Timur, perintis Komunitas Ciliwung Condet. DOK Indopos
indopos.co.id – Sungai Ciliwung saat ini terlihat kotor, seperti tidak terawat. Itu terlihat dari ketidakpedulian warga masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Masih ditemukan sampah baik di aliran sungai maupun di bantaran bibir sungainya. Lalu siapakah yang peduli akan kelestarian Sungai Ciliwung?
Mereka yang terbilang masih rajin merawat dan melestarikan Sungai Ciliwung selama ini melihat perubahan Sungai Ciliwung dari waktu ke waktu. Mereka yang tergabung dalam Komunitas Sungai Ciliwung Condet, melakukan berbagai upaya dalam melestarikan dan mengedukasi warga di bantaran Sungai Ciliwung untuk ikut menjaga sungai dan tidak membuang sampah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).
Ditemui INDOPOS, Abdul Kodir, 50, warga Condet, Jakarta Timur, perintis Komunitas Ciliwung Condet menuturkan selesai kuliah dia sudah terjun bersama petani untuk mengantisipasi banjir dan berupaya merehabilitasi bantaran sungai. “Sampai datang relawan-relawan peduli Sungai Ciliwung dan terbentuklah Komunitas Ciliwung Condet ini,” ulas Abdul Kodir santai sambil duduk santai usai menyeruput kopi dicangkirnya, Sabtu (21/11/2020).
Nah, di 2010 lanjutnya, sempat terbentuk organisasi yang peduli akan kebersihan Sungai Ciliwung. Namun, masing-masing banyak kesibukan-kesibukan, ada yang rumah tangga dan terkendala masalah ekonomi. “Jadi sempat tidak berjalan tapi dikatakan ada ya tetap ada Komunitas Ciliwung ini,” ungkapnya.
Dahulu dalam melestarikan Sungai Ciliwung, lanjut Abdul Kodir, upaya yang telah dilakukannya seperti menanam pohon-pohon sejak kecil. “Pohon yang kita tanam dulu masih kecil, sekarang sudah pada besar-besar. Ya untuk menjaga dan melestarikan sungai ini,” tuturnya sambil menunjukkan pohon kapas ukuran sangat besar, yang dulunya pernah ditanam sedari kecil itu.
Saat ini, sambung bapak yang sudah dikaruniai tiga anak itu, dirinya fokus dengan penanaman pohon berukuran besar. “Pohon yang kokoh ini harus terjaga karena dapat menahan bibir sungai,” akunya.
Namun, menurutnya, yang rajin merawat Sungai Ciliwung, tidak cukup hanya dilakukan oleh petugas seperti Dinas Lingkungan Hidup saja. Merawat Sungai Ciliwung harus bersama-sama, terintegrasi satu sama lain.
Abdul mencontohkan soal sampah saja, dari Dinas Pendidikan DKI dapat memberikan edukasi kepada warga masyarakat. Jadi bagaimana caranya untuk mengurangi produk penyumbang sampah-sampah yang tidak dapat terurai itu.
“Karena kondisi sampah di sini di Sungai Ciliwung ini banyak yang tidak terurai. Paling tidak dari edukasi itu dapat mengurangi sampah minimal 2 persen saja, itu sudah banyak,” katanya.
Belum lagi instansi atau badan-badan lainnya yang seharusnya juga dapat mengatasi permasalahan sampah. Selama ini, dirinya bersama-sama relawan peduli ciliwung merintis Komunitas Ciliwung hingga sekarang ini. Jadi dulu sempat mau buat organisasi. Beberapa kali buat struktur tetapi tidak berjalan. “Yang penting legitimasinya ada pengakuan dari publik. Intinya itu terhadap visi – misi kegiatannya. Defaktonya bagaimana berjalan atau tidak. Jadi mengalir saja kita tetap pada pemerintah,” katanya.
“Jadi ayo kita buat Pos disemua titik kalau perlu di setiap jengkal Sungai Ciliwung ada Pos, agar Ciliwung kita bersih,” akunya mengajak semua pihak tuk peduli ciliwung.
Seiring berjalannya waktu, ternyata di luar dugaan, persoalan sungai mempengaruhi kegiatan di sini. Abdul Kodir yang memakai topi itu menambahkan, tema kita sebenarnya ‘Konservasi’ motivasinya di Wilayah Condet adalah satu daerah cagar buah – buahan, itu sudah ada sejak masa Gubernur DKI Ali Sadikin menjabat.
Namun bagi sebagian warga Jakarta, barangkali banyak yang belum mengetahui tentang keberadaan perkebunan buah yang terletak di kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk menjadikan kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya. Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.
Pada tahun 1974, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebetulnya kawasan Condet sempat ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan cagar budaya Betawi melalui SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Seiring pergantian gubernur dan perubahan-perubahan kebijakan, Condet kian terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 2004 terbit SK Gubernur yang memerintahkan agar cagar budaya Betawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Di tiga Kelurahan di Condet ini, katanya, dulu kebun buah-buahan banyak ada di Condet, seperti buah salak, duku, pucung, melinjo, kecapi, rambutan, pohon gandaria, kapuk, kopi, kokosan, buni, menteng, lowa, aren, rambutan, cimpedak, nangka, mangga, belimbing, jambu, kelengkeng, durian, bacang, sawo, mahkota dewa, dan markisa. “Jadi ada cagar buah-buahan di sini dan itu dilindungi, tapi sekarang banyak pembangunan-pembangunan. Yang tersudut ya yang dipinggir kali, pasca banjir tahun 1997, 100 persen kebon Salak hancur,” ujarnya.
Dari pohon produktif itu tadi kami juga melestarikan bantaran Sungai Ciliwung ini, tapi permasalahan pada sekitaran Sungai Ciliwung salah satunya adalah banjir. Karena banjir mengakibatkan menumpuknya sampah-sampah plastik, pohonan rusak, ranting, bambu. Dan sedikit-sedikit kita rehabilitasi pasca banjir itu selama 4 tahun. “Permasalahannya ya itu tadi sampah,” ungkapnya.
Lebih jauh, Abdul Kodir mengungkapkan persoalan lainnya di ciliwung ini di Komunitas Ciliwung tidak ada yang menggaji, tidak ada dana operasional. Namun, komunitas ini terbuka buat CSR, kelompok profesional yang peduli akan ciliwung.
“Karena faktanya sungai makin rusak, Ruang Terbuka Hijau (RTH) masih sedikit. Lembaganya jalan masing-masing, cenderung eksklusif,” keluhnya.
Abdul katakan, hal ini seperti ada miss kordinasi. Seperti SKPD dengan SKPD saja tidak nyambung. Contoh, di jalanan sering macet ada pelebaran jalan, galian, perbaikan kabel, perbaikan trotoar. “Kenapa itu gak sekaligus bareng dikerjakan. Saya menyaksikan kok seperti ini. Dalam proses perjalanannya kita sendiri ada kesadaran,” tukasnya.
Sementara, sambung pria yang sudah tumbuh uban itu, dulu di sini kedung (titik paling dalam) Sungai Ciliwung bisa mencapai 10 meter kedalamannya.
“Sekarang sedimennya di Sungai Ciliwung ini sudah 5 meter, hanya di masa Ahok saat menjadi Gubernur DKI pernah dikeruk. Tapi sekarang turun lagi tanah dan sedimennya karena beberapa kali banjir kan beberapa tahun terakhir ini,” ungkapnya.
Dirinya merekomendasi, sebelum dikeruk maka infrastruktur sebelumnya harus disiapkan. Sebab, 70 persen sampah yang ada di sini adalah sampah plastik.
Sejurus akan hal itu, 10 orang penggiat di Komunitas Ciliwung yang masih ada, masih peduli. Seperti halnya melakukan edukasi kepada warga masyarakat sekitar agar tidak membuang sampah di Sungai Ciliwung. “Karena bicara sampah, menanam pohon, merehabilitasi bantaran kali itu harus konkrit,” tegasnya.
Selain itu, kita juga tak segannya memberikan imbauan pada warga tidak boleh membuang sampah di Sungai Ciliwung dan bantaran kali. “Tapi kalau banjir, kiriman, muatan sampah itu lagi yang datang kemari, mengendap di tanah dan sampah menyangkut di pohon,” ungkapnya.
Dia berharap Dinas Pertamanan dapat memberikan program dan juga Dinas Pariwisata untuk infrastrukturnya. “Kan ada Pergub Destinasi Wisata. Harusnya pembangunan prasarana harus dikebut dan dijalankan,” akunya menambahkan.
Makanya kita buat stimulus destinasi wisata sungai ideal buat Wilayah Condet, Jakarta Timur dan seberangnya Wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di satu sisi, wilayah ini akan dibuat Jalan Inspeksi dan ini yang kita tolak. “Naturalisasi oke, dapat mengakomodasi warga lokal, ramah lingkungan, tapi gak harus beton kan,” tegasnya.
“Jadi ayo kita kaji bareng deh,” tutup Abdul Kodir mengakhiri obrolan itu dengan senyum ramah. (ibl)



Apa Pendapatmu?