Alexa Metrics

MUI: Kerja Keras 10 Bulan Tanggulangi Pandemi, Hancur Dalam Sepekan Karena Kerumunan Massa

MUI: Kerja Keras 10 Bulan Tanggulangi Pandemi, Hancur Dalam Sepekan Karena Kerumunan Massa Kerumunan massa langgar prokes yang terjadi dalam kampanye Pilkada di Kabupaten Bulukumba di Sulsel (istimewa)

indopos.co.id – Kerumunan massa dalam jumlah besar yang tidak mengindahkan protokol kesehatan (prokes) yang terjadi belakangan ini disesalkan sejumlah pihak. Sebab hal tersebut berpotensi memperbesar risiko penularan COVID-19, padahal pandemi hingga saat ini masih terus berlangsung.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Nadjamuddin Ramly menilai berbagai kerumunan itu seperti hendak menghancurkan kerja keras semua pihak dalam menanggulangi pandemi.

Beberapa kejadian kerumunan massa dalam jumlah besar itu diantaranya, mulai dari peristiwa penjemputan Habib Rizieq Shihab (HRS) di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/11/2020), disusul serangkaian kegiatan HRS di kawasan Tebet Jakarta Selatan Cilangkap Jakarta Timur, Megamendung, Bogor dan Petamburan, Jakarta Pusat.

”Kami sangat menyesalkan ini. Kerja keras semua pihak dalam 10 bulan dihancurkan oleh kegiatan-kegiatan kerumunan dalam satu pekan terakhir,” ujar Nadjamuddin di Jakarta, Senin (23/11/2020).

MUI, kata Ramly, meminta Satgas Penanganan COVID-19 mengedepankan aksi penyelamatan jiwa manusia. Ia juga pun mengimbau umat Islam untuk menjalankan kewajiban agama dengan tetap memperhatikan prokes.

Ia mencontohkan, di tengah situasi pandemi COVID-19, shalat Jumat di masjid bisa dilakukan di rumah, shalat Idul Fitri di lapangan bisa dilakukan rumah, dan kewajiban merapatkan shaf saat shalat berjamaah, bisa diatur menjadi berjarak.

”Umat Islam ini tahu betul. Untuk dan atas nama penyelamatan jiwa manusia, yang wajib pun bisa diringankan. Dalilnya pun jelas, baik dalil naqli maupun dalil aqli, baik yang bersumber dari Al-quran dan hadis maupun pemikiran ulama,” kata Nadjamudin.

Menurutnya, MUI juga telah mengeluarkan 12 fatwa terkait situasi pandemi, di antaranya mengatur tata cara shalat bagi tenaga kesehatan yang merawat pasien terinfeksi virus corona, pemulasaraan jenazah COVID-19, serta shalat Idul Fitri dan Idul Adha di rumah masing-masing.

Keprihatinan serupa juga disampaikan dr M. Makky Zamzami yang merupakan Ketua Satgas COVID-19 PBNU. Menurut Makky, sudah selayaknya Satgas dan segenap pemangku kepentingan penanganan COVID-19 melakukan langkah kebijakan antisipasi terhadap musim libur akhir tahun 2020.

Selain itu, dalam mencermati kondisi psikis masyarakat yang berada pada tingkat kelelahan akut karena menjalani kehidupan ekonomi yang sulit di masa pandemi, Makky meminta perlunya dilakukan pembaruan strategi pendekatan, sehingga bentuk komunikasi dan cara-cara sosialisasi tidak monoton.

”Bila perlu disesuaikan dengan kearifan lokal. Pesan-pesan protokol kesehatan lebih baik jika dibuat berbeda antara satu bulan dan bulan yang lain. Bentuk, cara, dan strateginya berbeda. Tapi tujuannya sama,” kata Makky.

Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo mengatakan angka kematian akibat virus telah menembus 15 ribu orang. Selain itu, dalam dua hari terakhir terjadi lonjakan kasus tertinggi di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

”Kita pernah menekan angka terendah pada September 2020 dengan jumlah 41 ribu kasus, tapi hari-hari ini naik terus ke posisi 63.696, baik yang ringan, sedang, berat, maupun kritis,” tandas Doni. (ind)



Apa Pendapatmu?