Alexa Metrics

Munas MUI, ini Beberapa Kriteria Wajib Usulan Daerah

Munas MUI, ini Beberapa Kriteria Wajib Usulan Daerah Kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia, di Jalan Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat (bimasislam.kemenag.go.id)

indopos.co.id – Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 Majelis Ulama Indonesia (MUI) rencananya akan digelar pada Rabu – Jumat, 25 – 27 November 2020 di Jakarta.

Mengingat Munas ini dilakukan di tengah Pandemi COVID-19, maka teknis penyelenggaraan dilakukan secara blanded system, yaitu daring (online) dan luring (offline) serta dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Misalnya semua peserta offline harus di test swab, menggunakan masker, masing-masing peserta disiapkan 1 mic dan tempat persidangan yang berjarak 1-1,5 meter,” ujar Zainut Tauhid Sa’adi, Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi, kepada INDOPOS melalui keterangan tertulis, Senin (23/11/2020).

Pada Munas ini, MUI akan memilih ketua umum baru pengganti KH. Ma’ruf Amin yang sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Dari aspirasi yang diserap dari berbagai daerah, Ketua Umum MUI diharapkan dijabat oleh seorang ulama yang memiliki beberapa kriteria, seperti memiliki kedalaman ilmu agama (mutafaqqih fiddin), dapat menjaga muru’ah atau harga dirinya (mutawarri’), memiliki kemampuan menggerakkan organisasi (muharrik), tertib dalam memimpin organisasi (munadzdzim), aspiratif dan diterima oleh semua kalangan serta bisa bekerja sama dengan semua pihak.

MUI ke depan akan terus memantapkan peran dan fungsinya dalam melaksanakan tugas amar ma’ruf nahi mungkar atau mengajak ke jalan kebaikan (ma’ruf) dan mencegah hal-hal yang dilarang oleh agama (munkar).

“Orang sering memahami tugas mulia tersebut secara keliru, seakan-akan kalau mengajak kebaikan itu dengan cara yang lemah lembut sedangkan kalau mencegah kemungkaran itu harus dengan cara yang keras dan kasar,” katanya.

Pemahaman seperi ini keliru dan tidak dibenarkan menurut agama. Karena, baik amar ma’ruf maupun nahi munkar harus dilaksanakan dengan cara-cara yang baik, santun, berakhlak mulia dan tidak melanggar hukum dan norma susila.

“Tidak boleh atas nama mencegah kemungkaran (nahi munkar) dengan kata-kata yang kasar, menebarkan ujaran kebencian, hoaks, fitnah, ghibah, namimah dan teror atau membuat ketakutan pihak lain,” tegasnya.

Dalam Alquran, umat Islam diperintahkan untuk mengajak atau berdakwah dengan penuh kebijaksanaan (bilhikmah), contoh yang baik (mau’idhotil hasanah) dan berdiskusi dengan cara yang baik (wajadilhum billati hia ahsan).

Selain itu, pada Munas kali ini, MUI juga akan membahas rekomendasi dan fatwa, di antaranya terkait human diploid cell pada vaksin, penggunaan masker saat berihram haji dan umrah, pendaftaran haji melalui utang dan pembiayaan, serta pendaftaran haji pada usia dini.

“Pastinya, Munas ke-10 MUI ini diharapkan dapat merumuskan panduan etika dakwah yang dapat dijadikan panduan oleh para da’i, muballigh dan tokoh masyarakat dalam menunaikan tugas mulia,” pungkasnya.(rmn)



Apa Pendapatmu?