Alexa Metrics

TALKINC Ajak Generasi Muda Berkomitmen Selamatkan Dunia

TALKINC Ajak Generasi Muda Berkomitmen Selamatkan Dunia Erwin Parengkuan, Founder dan CEO TALKINC

indopos.co.id – Pandemi Covid-19 merupakan salah satu contoh dampak krisis kesehatan yang ditimbulkan akibat rusaknya keseimbangan alam. Selain itu, di Indonesia kondisi ini diperparah dengan meningkatnya temuan Kementerian Komunikasi dan Informasi terkait informasi palsu mengenai Covid-19 di media sosial sebanyak 1.222 selama periode Februari hingga April 2020. Selain itu secara global, hasil penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) periode 2006-2016 menemukan bahwa 70% berita palsu lebih mungkin di sebarkan melalui media dalam hal ini re-tweet.

Berangkat dari kesadaran akan kondisi bumi yang semakin mengkhawatirkan serta bergesernya manfaat media sosial dalam mempermudah komunikasi, TALKINC melalui acara TALKINC 16 Years of Collaboration yang bertemakan “Am I Fully Awake?”. Tema ini merupakan kolaborasi dengan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) yang berkelanjutan sejak 2019 untuk mengajak para insan muda dari seluruh lapisan generasi untuk berkomitmen selamatkan bumi, memanfaatkan media sosial untuk bertukar informasi positif serta memberikan donasi.

“Pandemi Covid-19 dan meningkatnya informasi palsu merupakan contoh kecil dari rusaknya keseimbangan alam dan kehidupan bermasyarakat. Saat ini, setidaknya kita merasakan bahwa suhu bumi ini semakin meningkat, dan kita juga berada pada era post-truth dimana pengaruh ketertarikan emosional dan kepercayaan pribadi lebih tinggi dibandingkan fakta dan data objektif dalam pembentukan opini, sehingga kita semakin sulit membedakan informasi valid dan tidak atau disebut post-truth. Untuk mengembalikan kondisi bumi yang layak disinggahi tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, dan pemerhati lingkungan saja. Tetapi, kita sebagai mahluk sosial sebaiknya mulai berkontribusi untuk memulai pola hidup sehat, ramah lingkungan dan menyebarkan edukasi kebaikan melalui media sosial.” Ungkap Erwin Parengkuan Founder dan CEO TALKINC.

Saat ini kondisi bumi sangat mengkhawatirkan dengan banyak kejadian alam yang ekstrem. Hal ini disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia sehari-hari yang menyebabkan kerusakan keseimbangan alam yang berdampak pada pemanasan global. European Union’s Observation Programme mencatat selama 12 bulan hingga September 2020, terjadi peningkatan suhu bumi mencapai 1,3 derajat celcius. Angka tersebut mendekati ambang batas peningkatan sebesar 1,5 derajat Celsius berdasarkan perjanjian Paris.

Di tahun yang sama, World Meteorology Organizations (WMO) mencatat suhu di pangkalan Esperanza Antartika mencapai suhu 18,3 derajat celcius pada 2020. Suhu tersebut menjadi rekor tertinggi di Antartika sejak 2015 . WMO menyatakan ada peluang sebesar 20% ambang batas 1,5 derajat celsius akan terlewati satu tahun sebelum 2024 dan berpeluang 70% batas itu terlewati satu bulan atau lebih dalam kurun waktu lima tahun.

Jika hal ini tidak segera dikendalikan dan diperbaiki maka kerusakan alam akan berdampak jauh lebih buruk bagi kehidupan di masa yang akan datang.

Yayasan Indonesia Cerah dan Change.org mencatat bahwa 89% generasi muda merasa sangat khawatir dengan dampak krisis iklim yang terjadi saat ini. Seiring perkembangan teknologi di era komunikasi digital, telah merubah cara dan sudut pandang kehidupan bermasyarakat. Seharusnya kemajuan teknologi komunikasi mendatangkan manfaat dalam penyampaian informasi yang cepat, sehingga mendorong kita lebih cepat sadar dan tanggap akan kondisi bumi ini.

Di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi membuat perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih individual dan sibuk dengan perangkat masing-masing. Tidak hanya itu, sosial media juga digencat dengan propaganda digital seperti meningkatnya penyebaran informasi palsu / hoax sehingga dihadapkan juga oleh ketidakpastian informasi dan krisis kepercayaan antar manusia.

“Tanpa kita sadari bahwa kegiatan sehari-hari seperti perilaku konsumtif, serta pengelolaan limbah rumah tangga dan elektronik yang tidak tepat menyebabkan kerusakan keseimbangan alam. Kedua hal tersebut sebaiknya kita kelola dengan bijak dan bertanggung jawab. Kami prihatin dengan banyaknya sampah plastik hingga elektronik mengotori sungai, laut dan ini berdampak nyata pada kehidupan kita. Tidak hanya menciptakan bencana alam, namun juga polusi yang berimbas pada krisis kesehatan,” ungkap Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. (sro)



Apa Pendapatmu?