Alexa Metrics

Penasehat Keamanan Nasional AS: Siapapun Presidennya, Kami Tidak Akan Pergi dari Indo-Pasifik

Penasehat Keamanan Nasional AS: Siapapun Presidennya, Kami Tidak Akan Pergi dari Indo-Pasifik Presiden Donald Trump dan  Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O’Brien.

indopos.co.id – Dalam kunjungannya ke Filipina, Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Robert O’Brien menegaskan bahwa AS tidak akan pernah meninggalkan kawasan Indo-Pasifik termasuk kawasan Laut China Selatan (LCS), tidak peduli siapapun presidennya. Ia juga menegaskan penggunaan kekuatan adalah satu-satunya cara menghadang China.

Hal tersebut disampaikan O’Brien dalam jumpa pers secara virtual dengan sejumlah jurnalis dari Korea Selatan, Filipina, Hongkong, Vietnam, dan Taiwan. Sebelum mengunjungi Filipina, O’Brien juga mengunjungi Vietnam dan Jepang.

Dilansir dari situs resmi Departemen Luar Negeri AS, O’Brien mengatakan alasan dirinya mengunjungi negara-negara Asean itu untuk untuk menyampaikan komitmen AS kepada para mitra mereka bahwa AS adalah kekuatan utama di Pasifik dengan komitmen jangka panjang tanpa peduli siapapun Presiden AS.

”Kepada mitra dan sekutu kami, AS adalah kekuatan utama Pasifik yang memiliki garis pantai Pasifik yang panjang. Dan kami memiliki komitmen jangka panjang di sini terlepas AS dipimpin seorang presiden dari Partai Demokrat atau Republik,” tegas O’Brient di Manila Filipina, Selasa (24/11/2020) waktu setempat.

Ia juga menegaskan pentingnya Indo Pasifik yang bebas dan terbuka, komitmen AS terhadap kedaulatan negara-negara yang ada di Indo-Pasifik, dan terutama yang berbatasan dengan LCS, termasuk komitmen AS menegakkan hukum internasional dan supremasi hukum di LCS.

”Apa yang saya katakan secara konsisten di Vietnam dan Filipina adalah hak penangkapan ikan, hak mineral, hak minyak dan gas yang ada di ZEE berbagai negara ASEAN adalah milik anak dan cucu dan cicit dari negara-negara tersebut. Dan hal itu tidak boleh direbut oleh tetangga yang kebetulan lebih besar atau lebih kuat atau lebih kaya atau memiliki militer yang lebih kuat,” kata O’Brien menyindir China.

Dalam kesempatan itu, O’Brien juga mengkritik keras China terkait praktik perdagangan yang tidak adil oleh China, pencurian kekayaan intelektual oleh China, upaya China memaksa tetangga mereka, dan pelanggaran HAM di Xinjiang terhadap orang-orang Uighur, padamnya api demokrasi di Hong Kong, dan upaya China untuk menganeksasi Taiwan.

”Belum lagi pelepasan virus COVID ke seluruh dunia. Entah itu tidak disengaja atau  wajar, orang China menutup-nutupi virus tersebut, dan mereka membungkam mereka yang mencoba membunyikan alarm di China. Mereka mengizinkan perjalanan dari China ke seluruh dunia saat mereka menutup perjalanan di China. Mereka membully WHO untuk memberikan informasi palsu tentang virus yang tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia, atau oleh aerosol,” urai O’Brien.

Akibat serangkaian perilaku tidak adil dan sulit oleh China itu, menurut O’Brien muncul konsensus bipartisan di AS bahwa pihaknya harus melawan China. ”Yang kami keberatan adalah upaya China dan Partai Komunis China untuk mencampuri politik Amerika, ikut campur dalam pemilihan kami, mencampuri kebijakan kami, mencampuri urusan internal sekutu kami seperti Australia. Perilaku semacam itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat (jengkel) orang-orang AS dari Partai Demokrat dan Republik,” ungkap O’Brien.

Sekali lagi ditegaskan O’Brien, bahwa AS tetap akan berada di kawasan Indo-Pasifik dan LCS yang terbuka demi menghalangi ambisi teritorial China. ”Kami mendukung Anda dan kami tidak akan pergi dari sini. Kami akan berjuang untuk wilayah Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Ini adalah pesan perdamaian melalui kekuatan sebagai cara untuk menghalangi China,” tegas O’Brien.

Terkait rencana pengambilalihan Taiwan oleh China, diungkapkan O’Brien kalau hal itu sampai terjadi maka akan ada konsekuensi yang luar biasa bagi China. Selain itu, AS juga telah menjual banyak persenjataan kepada Taiwan untuk melindungi negaranya dari serbuan China, termasuk melatih perang para pemuda Taiwan.

”Kami memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Taiwan. Jadi setiap upaya untuk membuat Taiwan bersatu dengan China akan menjadi konsekuensi luar biasa bagi RRC. Dan saya tidak dapat membayangkan apa pun yang akan menyebabkan reaksi yang lebih besar terhadapnya,” pungkas O’Brien. (ind)



Apa Pendapatmu?