Alexa Metrics

Sumbangan Transisi

Sumbangan Transisi 03-rabu-disway

Oleh : Dahlan Iskan

indopos.co.id – Belum dilantik ia sudah mulai dimaki-maki netizen. Itu gara-gara Joe Biden mengunggah satu tweet. Isi tweet itu meminta sumbangan.

Biden minta agar pendukungnya menyumbang lagi. Kali ini sumbangan untuk biaya peralihan pemerintahan agar presiden terpilih Amerika itu bisa segera melakukan proses transisi dari pemerintahan lama, Donald Trump.

Permintaan sumbangan itu langsung bikin ribut. “Lho, kok minta sumbangan. Kami ini memilih Anda karena kamilah yang seharusnya dibantu,” tulis salah satu tweet.

“Saya pikir Anda itu beda. Ternyata sama saja. Di negeri ini begitu banyak yang antre untuk dapat makanan. Kok orang malah dimintai sumbangan,” tulis yang lain.

Wow, ada pemerintah minta sumbangan pada rakyat yang ditindasnya.”
“Selamat, bos, begitukah cara hidup orang kaya?“

“Kita ini sudah hancur berbulan-bulan tanpa pekerjaan, tanpa sumbangan, ” kata pengunggah berikutnya. Dan banyak lagi yang sejenis.

Yang paling menohok adalah yang berikut ini. Tentu tidak sepenuhnya betul. Tapi memang sangat mengena.

Ini isinya.
Di Australia rakyat dapat bantuan 1.993 dolar per bulan.
Di Canada rakyat dapat bantuan 1.433 dolar per bulan.
Di Jerman rakyat dapat bantuan 7.326 dolar per bulan.
Di USA rakyat dapat surat permintaan sumbangan!

Memang tidak seharusnya Biden melakukan itu. Namanya pun jadi bulan-bulanan. Tidak ada yang menghujat Trump sebagai pihak yang menjadi penyebab lahirnya permintaan sumbangan itu.

Sebagai presiden terpilih Biden memang harus melakukan banyak persiapan. Tapi Trump menghambatnya, termasuk tidak memberikan dana negara untuk proses transisi itu.

Baru kemarin ada perubahan sikap di pihak Trump. Emily Murphy, pejabat di bagian pelayanan umum di pemerintahan Trump tiba-tiba mencairkan dana transisi untuk Biden.

Nilainya USD6,3 juta atau sekitar Rp80 miliar. Entah sepengetahuan Trump atau tidak.
Berarti sumbangan yang diributkan itu tidak diperlukan lagi, kecuali sudah telanjur.

Dengan dana transisi dari pemerintah itu, Biden bisa fokus ke penyusunan kabinet baru. Maka, masa-masa dekat ini sorotan akan pindah ke Biden, terutama mengenai siapa menjadi menteri apa. Kemungkinan besar akan ada wanita pertama menjadi Menteri Pertahanan. Atau penduduk asli Indian pertama yang akan jadi menteri dalam negeri.

Dan itu berarti ujian bagi Biden. Seberapa mampu Biden menjalin hubungan baik dengan Kongres. Para calon pejabat tinggi itu harus mendapat persetujuan parlemen. Belum tentu Kongres meloloskannya.

Yang juga menarik adalah hubungan Biden dengan Gereja Katolik. Aneh. Gereja Katolik tidak segera memberi ucapan selamat padanya. Padahal Biden itu langka. Dalam sejarah Amerika, Biden adalah orang Katolik kedua yang terpilih sebagai presiden. Yang pertama adalah John F. Kennedy, yang tewas ditembak di Dallas, Texas itu.

Padahal empat tahun lalu Gereja Katolik langsung mengucapkan selamat pada Donald Trump biarpun keterpilihannya baru dinyatakan oleh media.

Katolik memang mempunyai catatan khusus pada Biden. Bagaimana bisa Biden yang Katolik menyetujui aborsi. Itu bertentangan dengan prinsip yang dipegang Katolik.

Tentu Biden harus setuju itu. Platform Partai Demokrat memang adalah ideologi liberal, termasuk orang boleh memutuskan sendiri apakah mau melakukan aborsi atau tidak.

Biden di usianya yang 78 tahun kini justru harus mulai menerima tekanan luar biasa dari mana-mana. Itulah mungkin yang membuat hidup Biden lebih hidup. (*)



Apa Pendapatmu?