Alexa Metrics

Pengembangan Mobil Listrik Perlu Dukungan Semua Pihak

Pengembangan Mobil Listrik Perlu Dukungan Semua Pihak Ilustrasi. Mobil listrik.

indopos.co.id – Pemerintah terus menggeber pengembangan mobil listrik di dalam negeri. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Regulasi ini mengatur percepatan pengembangan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL-BB) melalui pemberian insentif, penyediaaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik, pemenuhan terhadap ketentuan teknis KBL-BB, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup. Perpres ini juga mengatur batas minimum Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam jangka panjang hingga 80 persen komponen lokal.

Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Riyanto menilai langkah pemerintah yang mengharuskan produsen kendaraan listrik memproduksi di Indonesia dengan lokal konten 80 persen di masa mendatang sebagai langkah tepat.

“Ini agar ada penyerapan tenaga kerja di masa peralihan kendaraan listrik. Mungkin di masa transisi akan ada industri yang mati dan industri baru yang hidup. Tapi apapun itu, ini sudah menjadi komitmen bersama perlu dukungan bersama,” ujarnya dalam webinar Peluang dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia, yang digelar Forwin, Kamis (26/11/2020).

Sementara itu, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hari Setiapraja mengatakan

percepatan konversi mobil Bahan Bakar Minyak (BBM) ke mobil listrik di Indonesia perlu melibatkan stakeholder terkait. Termasuk  dengan melibatkan partisipasi operator taksi online maupun konvensional.

Pasalnya, operator taksi online, serta taksi konvensional memiliki armada terbesar di Indonesia. Lebih lanjut Hari mengatakan untuk bisa melakukan konversi ke kendaraan listrik murni secara masif di Indonesia masih membutuhkan waktu beberapa tahun lagi.

“Salah satu tantangan mobil listrik adalah persoalan harga. Termasuk harga baterainya yang mencapai 50 persen dari harga mobil tersebut,” pungkasnya.(dai)



Apa Pendapatmu?