Alexa Metrics

Vaksin

Vaksin 05-jumat-disway

Oleh : Dahlan Iskan

indopos.co.id – Kekhawatiran saya ternyata berlebihan. “Sekarang ini vaksin sudah masuk,” ujar Menko Kemaritiman dan Investasi Jenderal LuhutPanjaitan. Yang dimaksud sekarang adalah Rabu (25/11/2020) lalu. Yakni saat saya bertemu Sang Menko dalam Podcast Energi Disway di Jakarta.

Yang dimaksud ”masuk” adalah sudah tiba di Indonesia. Untuk selanjutnya diproses di Biofarma. Misalnya dimasukkan botol-botol kecil. Lalu dimasukkan kemasan.
“Yang dimaksud sekarang sudah masuk itu, hari ini sudah masuk?” tanya saya lagi
“Sudah masuk,” jawabnya.

Berarti di Indonesia, bulan depan, vaksinasi sudah bisa dimulai. Tahap pertama. Secara darurat. Kalau Itu terjadi Indonesia termasuk kelompok negara tercepat melakukan vaksinasi.

“Tinggal menunggu izin BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),” ujar Luhut yang baru pulang dari Amerika Serikat (AS) itu. BPOM adalah badan yang mengeluarkan izin penggunaan obat atau makanan/minuman di Indonesia.

“Apakah BPOM harus menunggu izin dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization)?” tanya saya lagi. Begitulah asumsi saya selama ini.

Oh, tidak,” kata Luhut. “Sama sekali tidak perlu menunggu izin WHO,” tambahnya.
Namun, kata Luhut, BPOM harus menunggu laporan hasil ujicoba tahap tiga. Yang sudah selesai dilakukan di Bandung itu.

“Sejauh ini tidak terlihat muncul masalah. Bagus sekali. Tapi bapak Presiden minta harus hati-hati, tidak boleh grusa-grusu (terburu-buru, Red),” ujar Luhut.

Saya pun menyinggung bahwa Amerika akhirnya juga berhasil membuat vaksin Covid-19 yang keampuhannya mencapai 95 persen. Pengumuman itu diberitakan tepat ketika menko lagi berada di Amerika.

“Benar sekali,” kata Luhut. Ia pun mengatakan langsung menjajaki kerja sama dengan Amerika. “Ketika soal itu saya kemukakan kepada Presiden Donald Trump saya diminta langsung menghadap Wapres Mike Pence,” ujar Luhut.

Wapres Pence adalah penanggung jawab urusan pandemi di Amerika. Luhut pun diatur untuk bisa menghadap Pence. Lalu menemui pula menteri kesehatan. “Selama tiga hari di Washington DC saya empat kali ke Gedung Putih,” ujar Luhut.

Tidakkah ada masalah dengan kerja sama yang sudah ada dengan Tiongkok?
“Tidak ada masalah,” katanya. “Dari mana pun kita terima. Kasarnya, dari bulan pun, kalau ada, kita terima,” ujar Luhut.

Vaksin

Akhirnya, kata dia, yang menentukan adalah kualitas, harga, dan kecepatan. Kalau pun harus kerjasama dengan Amerika nanti Luhut minta tetap ada kerjasama dengan Biofarma Bandung. “Biofarma itu sudah berpengalaman selama 125 tahun. Itu saya jelaskan di Amerika,” katanya.

Kerja sama dengan Tiongkok pun, lanjut Luhut, tidak hanya dengan Sinovac. Hanya saja untuk yang satunya itu harus lewat Uni Emirat Arab (UEA). Itu karena ujicoba tahap tiganya dilakukan di UEA.

Saya pun ikut optimistis pertengahan tahun depan kita sudah bisa mulai bergerak. Semoga. Ekonomi ini sudah tersandera pandemi selama sembilan bulan.

Saya pun coba bertanya kepada siapa saja yang saya temui. Satu-dua orang ternyata mengatakan tidak berani divaksinasi. Takut tidak aman.

“Saya tidak mau,” ujar seorang wanita sukses di Jakarta. Ia pengusaha besar, kelas Rp60 triliun. Suaminya juga ikut tidak berani.

Tapi sebagian besar lainnya mengatakan berani. “Saya berani,” ujar Letjen Doni Monardo, ketua BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) saat saya tanya tadi malam. Saya memang bertemu sang ketua di kantornya Jalan Pramuka, Jakarta.

Ia terlihat sudah menyatu dengan kantor itu. Tiga bulan pertama Doni tidak pulang. Tidur di kantor itu. Sekarang pun hanya akhir pekan bisa pulang. “Itu tempat tidur saya,” ujarnya. Yakni di sebelah ruang kerja. Dibatasi kaca. Kursi di ruang kerja itu diatur berjauhan. Demikian juga kursi di meja rapat. “Kantor ini harus menjadi contoh,” katanya.

“Sebenarnya saya mendaftar untuk dijadikan relawan ujicoba tahap tiga,” ujar Doni. “Tapi saya tidak memenuhi syarat. Saya kan tinggal di Jakarta,” katanya.

Tentu saya sendiri juga siap menjalani vaksinasi. Kalau pun hari ini vaksin itu tersedia hari ini pun saya mau disuntik.

Maka saya tanyakan juga tentang vaksin untuk orang umum seperti saya. Apakah kami-kami ini bisa membeli vaksin secara komersial.

“Bisa. Nanti diatur. Hanya saja semuanya harus lewat Biofarma,” ujar Luhut. Maksudnya: Biofarma akan menunjuk partner untuk menjadi penyalur vaksin itu.

“Semua harus lewat Biofarma, agar harga bisa terkontrol. Kalau tidak, bisa melambung,” ujar Luhut.

Dengan vaksin yang efektivitasnya sekitar 95 persen mestinya bisa mengatasi keadaan. Katakanlah dari 100 juta orang yang divaksin kan hanya lima juta yang tidak muncul kekebalan mereka.
Sudah sangat bagus.

Sementara ini memang baru vaksin itu harapan terakhir untuk mengatasi pandemi secara total. Apalagi kalau semua orang sehat mau divaksinasi. (*)



Apa Pendapatmu?