Alexa Metrics

Pengampunan Kalkun

Pengampunan Kalkun -06-sabtu-disway

Oleh : Dahlan Iskan

indopos.co.id – Hari raya kalkun kali ini begitu banyak diwarnai persoalan politik. Maka, meja-meja makan pun dipenuhi pembicaraan politik. Tidak lagi seperti tahun-tahun lalu yang banyak memperdebatkan soal pertandingan sepak bola.

Di hari raya ini, ada kabar sangat baik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. “Saya pasti meninggalkan gedung ini, asal… ” ujar Trump di pidato hari raya kemarin WIB, “…. Joe Biden sudah dinyatakan terpilih secara resmi.”

Berarti salah semua spekulasi para pengamat selama ini. Ternyata Trump itu penganut asas legalitas. Bahwa ia belum mengakui kemenangan Biden itu karena secara hukum memang Biden belum menang. Baru media dan perhitungan di atas kertas yang mengatakan Biden menang.

Berdasar logika itu, Biden memang baru bisa disebut sebagai ”presiden terpilih” pada 14 Desember 2020. Mungkin sore atau malam hari. Yakni ketika para pemegang ”kursi” electoral vote berkumpul untuk memilih presiden.

Maka sebenarnya, secara hukum, Presiden Amerika itu tidak dipilih langsung oleh rakyat, tapi dipilih oleh para pemegang ”kursi” electoral vote.

Seperti Anda sudah tahu, Amerika itu dibagi ke dalam 538 daerah pemilihan. Di sana disebut electoral vote. Maka, barang siapa memenangkan 270 dapil (daerah pemilihan) berarti ia menang.

Biden telah memenangkan 306 dapil. Trump hanya memenangkan 232 dapil. Dapil-dapil itulah yang akan berkumpul pada 14 Desember. Mereka, 538 dapil itu, memilih presiden Amerika Serikat. Dalam sejarah Amerika belum pernah terjadi dapil yang dimenangkan A memilih capres B.

Sebenarnya pada 14 Desember itu hanya formalitas hukum. Dan Trump memegang formalitas itu. Maka ia tidak setuju Biden dinyatakan sebagai presiden terpilih sekarang. Pemilihan presiden (pilpres) belum dilakukan. Yang terjadi pada 3 November lalu itu adalah pemungutan suara.

Bahkan Trump sampai mengecam ketika Biden mulai menyusun kabinet. Bagaimana bisa belum terpilih sudah mengumumkan siapa anggota kabinetnya.

Yah, suka-suka Trump mau ngapain saja. Apalagi, berdasar logikanya tadi, ia tetap masih Presiden Amerika yang efektif sampai 20 Januari 2021. Ia masih bisa melakukan apa saja sebagai presiden sampai tanggal itu. Masa jabatan empat tahun, baginya, adalah sampai tanggal itu.

Memang Trump masih terus ”ngomel” soal kekalahannya itu. “Inilah pemilu yang penuh kecurangan,” katanya berkali-kali. Sampai yang mendengarkan pun bosan, apalagi yang menulis. Entahlah yang membaca.

Saya menyebut kata-kata Trump itu sebagai ”ngomel” karena hanya diucapkan di mulut saja. Memang pernah benar-benar ada langkah hukum, tapi satu per satu gugatan itu ia tarik. Ia tidak punya bukti yang disebut kecurangan.

Di tengah omelannya itu Trump tetap mendapat hadiah yang berharga dari hakim agung yang ia ajukan belum lama ini, Amy Coney Barrett.

Berkat Barrett, hasil pemungutan suara di Mahkamah Agung (MA) itu menjadi lima sampai empat. Itu ketika Kamis lalu, ia memutuskan perkara gugatan Gereja Katolik dan Yahudi Orthodox atas Gubernur New York yang Demokrat.

Itu menyangkut urusan Covid. Untuk menghadapi Covid-19, sang Gubernur telah melakukan pembatasan jemaat gereja dan sinagoga. Tentu juga masjid dan rumah ibadah agama apa saja.

Maka dengan putusan terbaru Mahkamah Agung tersebut tidak boleh lagi ada pembatasan seperti itu di New York.

Sedang di negara bagian California dan beberapa lagi tetap ada pembatasan. Itu karena Mahkamah Agung memutuskan sebaliknya. Mahkamah Agungnya masih sama. Hanya, waktu itu, Barrett belum menjadi hakim agung.

Topik ini menjadi pembicaraan hot selama hari raya kalkun kemarin, yakni agama vs keselamatan umat manusia. Tapi persoalan hak individu melebihi aturan pemerintah memang dijunjung tinggi di konstitusi Amerika. Apalagi hak beragama dan menjalankan ajaran agama. Dan lagi Mahkamah Agung adalah penjaga konstitusi. Tidak ada Mahkamah Konstitusi di sana.

Maka meski ada pandemi hari raya kalkun tetap meriah, setidaknya di media sosial.
Hari raya kalkun ini (Thanksgiving Day) adalah hari raya paling meriah di Amerika.

Kemeriahannya melebihi Natal dan Tahun Baru. Meriahnya mirip Imlek di Tiongkok. Ada liburan besar. Orang berkumpul keluarga. Makan-makan. Happy-happy. Sajian utamanya adalah daging kalkun panggang di semua rumah tangga.

Jutaan kalkun (turkey) dipotong untuk hari raya ini. Tradisi ini sudah sangat lama. Sudah ratusan tahun. Mereka bersenang-senang atas selesainya masa panen gandum. Setelah ini, sebelum ada mobil dulu, orang akan lebih banyak di rumah selama musim salju.

Saya baru sekali ikut merayakan Thanksgiving Day. Yakni ketika pertama kali ke sana atas undangan Pemerintah Amerika. Salah satu acaranya adalah merasakan hari raya di desa di New Jersey. Kami merayakan di salah satu rumah penduduk di desa itu. Acaranya ramai sekali.

Tentu itulah kali pertama saya makan daging kalkun. Sudah lupa rasanya. Barangkali mirip ayam.

Begitu banyak kalkun menjalani ”hukuman mati” untuk hari raya ini. Tapi harus ada satu kalkun yang mendapat pengampunan langsung dari seorang Presiden Amerika.

Maka beberapa hari sebelum hari raya, selalu ada seekor kalkun yang dikirim ke Gedung Putih. Yang memilih adalah asosiasi peternak kalkun. Biasanya yang terpilih itu kalkun jantan yang gagah dan sehat. Umurnya sudah 3,5 bulan. Beratnya sudah sekitar tujuh kg.
Setiap presiden memberi nama kalkun itu agar dalam surat pengampunan bisa disebut siapa namanya.

Presiden Reagan memberinya nama Woody dan seterusnya. Delapan nama. Presiden Clinton pilih nama Harry dan sebangsanya. Juga delapan nama. Presiden Obama memilih nama seperti Courage, Apple, Abe, dan sebagainya. Delapan nama juga.

Trump hanya perlu memberi pengampunan pada empat nama kalkun. Tentu tidak ada masalah. Sebentar lagi Trump akan memberikan pengampunan kepada teman-teman dan keluarganya agar kalau mereka punya kesalahan, tidak diperkarakan di pemerintahan setelahnya.

Tentu mereka yang akan mendapat pengampunan presiden itu tidak akan bernasib seperti para kalkun. Menurut laporan media di Amerika, kalkun-kalkun yang mendapat pengampunan itu rata-rata berumur pendek. Mereka mati tidak sampai satu tahun setelahnya. (*)



Apa Pendapatmu?