Alexa Metrics

Koperasi Jadi Wadah Terdepan bagi KUMKM untuk Bangkit dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Koperasi Jadi Wadah Terdepan bagi KUMKM untuk Bangkit dalam Pemulihan Ekonomi Nasional warta 1

indopos.co.id – Koperasi menjadi salah satu kelembagan terdepan untuk pemulihan ekonomi nasional. Koperasi dan UMKM yang tergabung dalam koperasi dan kini tengah terpapar Pandemi, diharapkan mampu melalui berbagai insentif yang disediakan pemerintah kepada koperasi.

Demikian benang merah dari diskusi yang digelar forum komunikasi Sumatera Barat, di Bukittinggi Jum,at (28/11) yang menampilkan narasumber Nevi Zuraina Anggota DPR RI, Edy Satriya, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kemenkop UKM dan Rahmadi Asisten Deputi Pemetaan Kondisi dan Peluang Usaha KemenkopUKM, dan diikuti 150 KUMKM se Sumbar.

Anggota DPR Nevi Zuarina mengatakan koperasi memiliki model usaha tumbuh dan besar atas usaha anggota dan memiliki Kepengurusan yang kuat dalam menjalankan misi yang disesuaikan dengan
perubahan bisnis dan pasar. Seluruh komponen baik pemerintah, gerakan koperasi dan masyarakat saling bahu membahu untuk menjaga marwah perkoperasian.

Salah bentuk dukungan
pemerintah terutama di masa pandemi Covid-19 melalui program Subsidi
Bunga/Subsidi Margin untuk Kredit/Pembiayaan bagi UMKM (Non-KUR). Program ini sangat bermanfaat bagi Koperasi yang debiturnya merupakan pelaku UMKM bukan
pinjaman untuk tujuan konsumtif, khususnya bagi 539ribu pelaku UMKM di Sumatera
Barat.

“Kita harus mengubah mindset atau cara pandang masyarakat dalam melihat dan
menilai koperasi, serta Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan
koperasi,” ujarnya.

Sejumlah Program buat Koperasi

Sementara itu Eddy Satriya, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi dan UKM menyampaikan bahwa Kementerian Koperasi dan UKM telah menjalankan
berbagai program untuk Koperasi dan UMKM di Indonesia, mayoritas adalah program
untuk kemudahan berusaha Koperasi dan UKM serta berbagai bantuan untuk membantu
KUMKM bangkit dari Krisis pada pandemi Covid-19 ini.

“Dengan keadaan Ekonomi Dunia yang rata-rata terpuruk di Dunia, diharapkan KUMKM dapat
bekerjasama untuk mengantisipasi adanya second hit yang bisa saja akan terjadi di hari
kemudian” katanya.

Ia menambahkan dengan keadaan Ekonomi Indonesia di Triwulan III 2020 yang terkontraksi
3,49%, Pemerintah telah memberikan berbagai stimulus kepada masyarakat baik melalui
Program Pemulihan Ekonomi Nasional, Program Digitalisasi KUMKM, maupun Program
Reaktivasi Usaha sesuai sektor. Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional yang pada tahun 2020 mencapai Rp 695,2 T, telah dialokasikan khusus untuk Dukungan KUMKM sebesar
Rp 123,46 T yang pada tanggal 20 November 2020 penyerapannya telah mencapai 70%
(Rp 86,430 T).

Lebih lanjut Edy mengatakan dalam pemberdayaan Koperasi dan UKM, Kementerian Koperasi dan UKM
telah merancang Program Strategis untuk tahun 2020 – 2024 yang terdiri dari tiga pilar,
yaitu Kapasitas Usaha dan Kompetensi KUMKM, Lembaga Keuangan yang ramah bagi
KUMKM, dan Ekosistem pendukung KUMKM. Kedepan, Koperasi akan didorong untuk
fokus meningkatkan layanan kepada anggota melalui skema yang lebih responsive
terhadap kebutuhan anggota, dan peningkatan kualitas manajemen koperasi.

Sementara itu. Rahmadi, Asisten Deputi Pemetaan Kondisi dan Peluang Usaha, Kementerian Koperasi dan UKM menambahkan , koperasi dapat memanfaatkan
fasilitasi pemerintah berupa program Subsidi Bunga/Subsidi Margin untuk Kredit/Pembiayaan bagi UMKM (Non-KUR) yang tentunya akan membantu para debitur dalam mengangsur pinjaman ke koperasi. Program ini bertujuan untuk melindungi,,mempertahankan dan meningkatkan ekonomi UMKM/Debitur dalam menjalankan
usahanya sebagai bagian dari upaya mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Subsidi diberikan selama 6 bulan terhitung dari bulan Mei s.d. Oktober 2020. Adapun
besaran subsidi yang akan diberikan adalah berjenjang tergantung plafon pinjaman
masing-masing debitur dengan rincian sebegai berikut,
a. Plafon s.d Rp 10 Juta, Max subsidi seebsar 25% selama 6 bulan
b. Plafon > Rp 10 Juta s.d Rp 500 Juta, 6% utk 3 bln pertama dan 3 % utk 3 bln berikutnya
c. Plafon > Rp 500 Juta s.d Rp 10 Miliar, 3% utk 3 bln pertama dan 2 % utk 3 bln berikutnya.(*)



Apa Pendapatmu?