Alexa Metrics

Selama Pandemi, Banyak Kekerasan Berbasis Gender

Selama Pandemi, Banyak Kekerasan Berbasis Gender Dokumentasi – Sejumlah perempuan berfoto dengan alat peraga kampanye Indonesia Bebas Kekerasan Seksual mengikuti kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (K16HAKTP) di Aceh Utara, Aceh, Selasa (10/12/2019). ANTARA

indopos.co.id – Laporan Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyatakan, kekerasan berbasis gender meningkat 63 persen selama pandemi COVID-19 yang ditengarai karena perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

“Dari kajian yang kami lakukan, perempuan di Indonesia menghabiskan waktu lebih dari tiga jam untuk melakukan tugas rumah tangga, empat kali lebih banyak dibandingkan laki-laki,” kata Komisioner Komnas Perempuan Alimatul Qibtiyah dalam siaran pers dari LOCALISE SDG’s Indonesia yang diterima di Jakarta, Senin (30/11/2020).

Alimatul mengatakan, ketika perempuan di rumah dianggap tidak mampu memenuhi tugasnya dengan baik, mereka lebih rentan menjadi sasaran tindak kekerasan.

Hingga Oktober 2020, Komnas Perempuan telah menerima 1.617 laporan, terdiri atas 1.458 kasus kekerasan berbasis gender dan 159 nonkekerasan berbasis gender. Kekerasan yang dilaporkan terjadi di ranah personal sebanyak 960 kasus, komunitas 480 kasus, dan negara 18 kasus.

Bentuk kekerasan yang terbanyak terjadi adalah kekerasan psikis dengan jumlah 964 kasus dan kekerasan seksual sebanyak 888 kasus yang terjadi di rumah tangga maupun di komunitas.

“Hal yang perlu mendapat perhatian adalah kekerasan gender berbasis siber yang didominasi dengan kekerasan seksual. Dari laporan yang kami terima, modus kekerasan ini berbentuk penyebaran foto atau video korban dengan motif balas dendam. Kasus yang dilaporkan hingga Oktober 2020 mencapai 695 kasus, sementara tahun lalu hanya 281 kasus,” jelas dia.

Menurut Alimatul, peningkatan angka kekerasan selama pandemi COVID-19 merupakan momentum penting untuk mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual untuk menjadi payung hukum.

“Sebanyak 80,3 persen korban enggan melaporkan kasus yang mereka alami ke layanan pengaduan dan sekitar 68,8 persen tidak memiliki atau menyimpan nomor pengaduan,” tutur dia.

Layanan pengaduan secara daring maupun luring sangat penting. Alimatul berharap layanan digital terkait kekerasan berbasis gender dapat ditingkatkan pada masa pandemi COVID-19. (ant/rul)



Apa Pendapatmu?