Alexa Metrics

APSI Bantah Penumpukan Sampah Plastik

APSI Bantah Penumpukan Sampah Plastik Tumpukan sampah menjadi harapan kaum miskin untuk menyangga hidup sehari-hari.

indopos.co.id – Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) meradang. Itu menyusul penggiringan opini kalau galon sekali pakai Le Minerale menumpuk sampah. Berita tersebut diklaim APSI tidak benar dan menyesatkan.

APSI menyatakan tidak benar atau bertentangan dengan fakta di lapangan. Pasalnya, galon plastik sekali pakai tergolong dalam jenis plastik Polyethylene Terephthalate (PET) dengan kode plastik daur ulang nomor satu. Artinya, sampah plastik tersebut tergolong mudah didaur ulang dan dapat digunakan kembali. ”Itu penggiringan opini dan menyesatkan,” ujar Ketua Umum APSI Saut Marpaung, di Jakarta, Senin (1/12/2020).

Sumber kegusaran APSI itu, akibat cuitan akun netizen dan sejumlah akun, seolah-olah mewakili atau mengatasnamakan LSM lingkungan dan imbauan influencer. ”Penggiringan opini dan pembelokan fakta dapat merugikan seluruh pihak yang mendukung sirkular ekonomi yang digaungkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Kami sebagai pengusaha turut menjaga lingkungan dengan cara mendaur ulang sampah plastik juga merasa dirugikan akibat berita faktanya dibelokan,” imbuh Saut.

Saut menyebut galon plastik sekali pakai dan botol air kemasan PET sangat membantu ekonomi rakyat kecil. ”Lebih bagus (galon) sekali pakai untuk mendukung pendapatan pemulung dan pengepul sampah,” tegas Saut.

Persoalan sampah itu bihang Saut, harus dilihat secara holistik. Secara luas. Tidak bisa hanya sebagian-sebagian atau secara parsial. Jadi, di dalam stakeholder persampahan, terdiri dari beberapa pihak. Ada pemerintah pusat, propinsi. Ada juga penghasil sampah. Yaitu masyarakat keseluruhan. Kemudian ada lagi stakeholder seperti pengusaha sampah. Mata rantai industri.

”Kita ini bagian dari stakeholder yang bekerja untuk memilah dan memproses sampah supaya tidak mencemari lingkungan,” papar Saut.

Indonesia sebut Saut masih negara berkembang, tingkat pengangguran tinggi. Tidak sedikit wira usaha mikro usaha sudah lama mengumpulkan sampah. Itu artinya, persoalan sangat mendesak di depan mata masalah kemiskinan. Masyarakat butuh kerja, butuh makan.

”Pekerjaan paling gampang memungut sampah bernilai. Lihat TPA Bantar Gebang ada 6000 pemulung mencari sampah untuk menghidupi anak dan istri,” tegas Saut.

Saut mengatakan Peraturan Menteri Lingkungan Hiudp dan Kehutanan Nomor 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen. Melalui peraturan itu, KLHK meminta peran aktif produsen untuk mengurangi sampah dari produk yang hasilkan. Sehingga target pengurangan 30 persen sampah dalam 10 tahun dapat tercapai.

”Le Minerale sebagai produsen, telah bekerja sama dengan APSI sebagai wujud implementasi peraturan Menteri Lingkungan Hiudp dan Kehutanan Nomor 75 tahun 2019. Dimulai dari Kabupaten Klungkung, Bali untuk pengurangan sampah. Dengan cara, edukasi memilah jenis sampah di rumah tangga, sampai proses di pusat daur ulang, yang kemudian sampah tersebut diserap oleh APSI untuk di daur ulang,” pungkasnya.(dai)



Apa Pendapatmu?