Alexa Metrics

Kasus Ali Kalora di Poso, IPW Usul Ada Reward Bagi Personel TNI-Polri

Kasus Ali Kalora di Poso, IPW Usul Ada Reward Bagi Personel TNI-Polri Ali Kalora dalam dua penampilan wajah (istimewa)

indopos.co.id – Sudah satu pekan kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Ali Ahmad alias Ali Kalora membunuh satu keluarga berikut membakar tujuh rumah di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah pada Jumat siang (27/11/2020) lalu. Namun hingga kini aparat gabungan TNI dan Polri belum juga berhasil meringkus para pelakunya yang diperkirakan sekitar 20 orang.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S.Pane mengungkapkan, sesuai informasi yang diperoleh pihaknya, setelah melakukan aksi teror kelompok Ali Kalora lari bersembunyi di dalam hutan lebat di pedalaman Sulawesi Tengah. Padahal kata Neta, aparat polisi yang ditugaskan memburu para pelaku tidak berpengalaman bertempur di dalam hutan belantara.

”Padahal di dalam medan tempur ada tiga kategori, yaitu hutan, gunung, dan perkotaan. Masing masing medan berbeda situasi dan karakternya. Sehingga strategi, stamina fisik personel, mental, dan peralatan yang harus dimiliki aparat juga harus berbeda. Nah, personel kepolisian yang tidak punya pengalaman di medan hutan, pasti takut untuk masuk ke dalam hutan memburu Ali Kalora cs itu. Mereka hanya berada di luar hutan hingga waktu penempatannya di Poso berakhir, lalu pulang ke Jawa,” urai Neta kepada indopos.co.id, Kamis (3/12/2020).

Karena itulah menurut Neta, kelompok teror Ali Kalora cs yang hanya 20 orang itu tidak akan pernah tertangkap. Bahkan sejak 2016 mereka bebas menebar teror di Sulteng. ”Densus 88 sekali pun tidak punya pengalaman di medan tempur hutan. Mereka hanya piawai di perkotaan,” lontar Neta.

Ia lantas menghimbau Mabes Polri perlu mengkonsolidasikan Brimob dan TNI yang memang berpengalaman di medan tempur hutan dalam memburu para teroris itu. Selain itu, menurut Neta syarat yang harus dipenuhi Mabes Polri adalah biaya operasional yang harus memadai dan tidak dipotong oknum pimpinan, begitu juga insentif yang bertugas di lapangan bisa diperoleh utuh untuk ditinggal di rumah.

”Peralatan pasukan di lapangan juga harus memadai. Dam yang terpenting harus ada reward yang jelas ketika mereka berhasil menghabisi kelompok Ali Kalora. Jangan kosong kosong bae, sementara mereka harus menyambung nyawa di hutan. Jika tidak ada jaminan soal keempat hal itu jangan harap Ali Kalora cs bisa dihabisi,” papar Neta.

Reward yang dimaksud Neta misalnya personel yang berhasil ”menghabisi” Ali Kalora bisa langsung mengikuti pendidikan semacam sekolah untuk calon perwira, atau memegang posisi jabatan. ”Strategi inilah yang perlu diperhatikan. Sehingga Mabes Polri tidak hanya sekedar memberi ’perintah kosong’, sementara mereka melihat teman temannya yang bertugas di belakang meja, di kota-kota di Jawa bisa sekolah dan gampang dapat jabatan empuk,” pungkas Neta.

Ali Kalora sendiri sejak menggantikan Santoso pada 2016 silam, sudah melakukan berkali-kali aksi teror biadab di kawasan Sulawesi Tengah. Dari data yang dikumpulkan, Ali terlibat dalam pembunuhan dengan mutilasi seorang warga Desa Salubanga di Parigi Moutong Sulawesi Tengah pada 28 Desember 2018, lalu penembakan terhadap dua anggota polisi pada 31 Desember 2018. Ali dan kelompoknya juga menembak anggota polisi di sebuah bank di Poso pada 15 April 2019, membunuh dua warga sipil di Parigi Moutong pada 27 Juni 2019, dan membunuh warga sipil di Poso pada 8 Agustus 2019. (ind)



Apa Pendapatmu?