Alexa Metrics

70 Persen Pelajar Depok Tak Perawan, Komnas Perempuan: Perlu Pendidikan Seks

70 Persen Pelajar Depok Tak Perawan, Komnas Perempuan: Perlu Pendidikan Seks PRIHATIN- Komisioner Komnas Perempuan Alimatul Qibtiyah. Foto: istimewa

indopos.co.id – Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mendorong Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Depok memberikan edukasi pendidikan seksual yang lebih komprehensif kepada para siswa tingkat SMP dan SMA di kota tersebut.

Alasannya, 90 persen siswi tingkat sekolah itu hilang keperawanan lantaran telah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Bahkan, kondisi ini akan membuat pergaulan remaja di kota itu akan semakin memburuk.

Komisioner Komnas Perempuan Alimatul Qibtiyah mengatakan usulan memasukan edukasi seksualitas di dua tingkat sekolah ini sangat penting dilakukan Pemkot Depok. Sebab dalam kasus tertentu, perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan.

Misalnya ketika siswi yang hamil kemudian dikeluarkan dari sekolah, sehingga pemenuhan haknya terhambat. Dampak-dampak ini, kata dia, perlu dipahami siswa dan siswi.

”Ketika anak mendapat pendidikan seksual, justru mereka akan semakin menunda aktivitas seksual aktif. Lah, ini yang kadang-kadang agak susah untuk dipahami. Makanya kami dorong pendidikan ini mulai diberikan ke siswa oleh para guru,” katanya saat dihubungi, Rabu (30/12/2020).

Diakui Alimatul juga, temuan itu didapati setelah Komnas Perlindungan Anak melakukan survei terhadap siswi SMP/SMA di Depok, usai anggota Komisi VIII Fraksi PKS DPR RI Nur Azizah Tahmid menyebut 70 persen siswi SMP di Depok telah berhubungan seksual.

Hasil survei itu menyatakan 93,8 persen dari 4.700 siswi SMP/SMA di Depok mengaku pernah berhubungan seksual. Survei tersebut juga mengungkap 97 persen responden mengaku pernah menonton pornografi.

”Survei ini sudah dilakukan di beberapa wilayah pada lima tahun lalu. Jadi sebenarnya lima tahun yang lalu survei Komnas PA menemukan 93,7 persen anak SMP dan SMA itu sudah tidak perawan lagi. Jadi apa yang dikatakan oleh kader PKS itu dibenarkan data lima tahun lalu dan kami sudah umumkan,” jelasnya juga.

Menurutnya juga, pemahaman pendidikan seksualitas di masyarakat Indonesia masih dianggap tabu. Padahal dari riset yang dilakukan di negara dengan pendidikan seksual di sekolah, siswa dan siswi cenderung mengurungkan niat melakukan hubungan seksual setelah mendapat pengetahuan yang komprehensif.

”Nah anak di bawah umur yang melakukan hubungan seksual justru umumnya karena tidak memiliki pendidikan terhadap dampak dan risiko yang dapat dia alami, baik secara sosial, budaya, norma dan agama. Karena perilaku berisiko yang sering dilakukan relasi pacaran kalau terjadi, dampak terburuk yang diemban pada perempuan, karena adanya kehamilan yang tidak diinginkan,” ujar Alimatul juga.

Selain itu, lanjut Alimatul, ada banyak perkara hubungan lawan jenis yang perlu dipahami siswa dan siswi di usia remaja. Seperti kehamilan, dan penyakit kelamin. Termasuk menghindari kekerasan dalam pacaran sampai hubungan yang tidak sehat.

Dijelaskannya juga, pendidikan seksual komperehensif itu meliputi hubungan seksual dan risikonya, cara berkomunikasi yang baik, kesadaran akan industri seks dan pornografi, sampai cara berhubungan yang sehat dan setara.

Artinya secara keseluruhan para pelajar tingkat SMP dan SMA ini memahami bahayanya seksualitas diluar nikah. Sehingga masa depan para siswi ini pun dapat terselamatkan. (cok)



Apa Pendapatmu?