Alexa Metrics

Melihat Proses Pemerahan Sapi secara Steril

Melihat Proses Pemerahan Sapi secara Steril Pengusaha Susu Sapi Cibugary Abdul Mughni Mubarak, menunjukkan sejumlah sapi di peternakan miliknya di Jalan Peternakan Raya, Blok C, Nomor 12, Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Foto: Joesvicar Iqbal/INDOPOS

Joesvicar Iqbal, Jakarta

Jalan Peternakan Raya, Blok C, Nomor 12, Pondok Ranggon, Jakarta Timur, masih tampak asri. Di balik rimbun pepohonan itu, ada peternakan sapi perah (Cibugary). Dikelola sembilan bersaudara.

INDOPOS berkesempatan berkunjung. Melihat dari dekat proses pemerahan susu sapi yang segar, menyehatkan dan mengedukasi para pengunjung.

Siang itu, Rabu (30/12/2020), pengusaha Susu Sapi Cibugary Abdul Mughni Mubarak, menyapa hangat dan ramah. Pria 39 tahun akrab disapa Mughni itu menceritakan, dahulu orang tuanya naik sepeda mengantarkan susu murni ke sejumlah pelanggan. ”Masih belum besar usaha susu sapi segar ini mas,” kata dia seraya menuju kandang sapi itu.

Mengenakan topi dan masker, Mughni bercerita, usaha keluarga itu, dikelola sembilan bersaudara. Pada 1990-an, peternakan sapi perah itu, dijalankan orang tuanya. ”Jadi, kami meneruskan warisan usaha kedua orang tua yakni H Sholahuddin Abdul Fatah dan Hj Siti Laela. Awalnya, pada 1990 berlokasi di kawasan Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan,” bebernya.

Di kawasan pusat bisnis di Mega Kuningan itu, dulu tidak sedikit pelaku peternakan sapi. Karena ada permintaan dari pengusaha, peternakan susu sapi keluarga ini pindah ke Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

”Kita dulu mau pindah tapi di tempat resmi. Kami pindah ke Pondok Ranggon ini ada SK (Surat Keputusan) Gubernur sebagai kawasan agro khusus peternakan sapi,” ujar Mughni.

Pada 1993, peternakan sapi perah itu, akhirnya pindah ke Jalan Peternakan Raya, Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Tapi sejak 1990-an itu, sudah banyak pelaku usaha peternakan sapi perah pindah dari Mega Kuningan. ”Dulu ‘kan di Mega Kuningan terkenal peternakan sapinya,” tuturnya.

Waktu terus bergulir, peternakan susu sapi perah dinamakan Cibugary, berdiri pada 1996 di area seluas 2.800 meter persegi. Didirikan Rahmat Al Baghory (52) dan anak pertama dari sembilan bersaudara itu. Setelah melayani konsumen, Rahmat ikut bergabung untuk mengobrol.

Rahmat mengaku, dulu peternakan sapi itu, banyak dikunjungi anak-anak dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). ”Maka kita berikan juga edukasi di peternakan Cibugary ini,” kata Rahmat sembari menyeruput kopi hitamnya.

Jadi, ada edukasi, materinya juga ada. Sehingga para pelajar mendapat pengetahuan seputar peternakan susu sapi perah. ”Sekolah harus koordinasi dulu. Karena kami harus atur jam kunjungan. Sejak 1996 sudah tertata,” ujar Rahmat.

Saat itu, pria berkulit sawo matang itu berpandangan sebagai pelaku usaha peternak sapi perah sembilan bersaudara, harus mempunyai inovasi dan melebarkan sayap.

”Saya berpikir ketika itu harus memulai, harus ada terobosan mengingat pengusaha sapi perah berguguran saat itu. Dulu harga susu masih murah dari bensin. Jadi, ini menjadi tantangan kami,” kata dia santai sambil mengingat masa lalu.

Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia, Jakarta khususnya masih sangat rendah. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Statistik Kementerian Pertanian (Kementan), konsumsi susu di Indonesia hanya 16,23 liter per kapita per tahun terendah se-Asia Pasifik 2019. ”Produksi susu nasional kita 70 persen masih impor,” timpal Mughni menyayangkan.

Melihat Proses Pemerahan Sapi secara Steril

Alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta, angkatan XXII itu menambahkan, usaha susu sapi perah itu turun temurun. Untuk itu, lanjut Mughni, kualitas susu sapi dipengaruhi pakan ternak.

”Pakan ternak juga sangat diperhatikan karena mempengaruhi 80 persen kualitas susu,” beber anak keenam dari sembilan bersaudara itunsambil menunjukkan kandang sapi untuk melihat langsung proses pemerahan susu sapi tersebut.

Kemudian, yang bisa mempengaruhi kuantitas susu sapi itu faktor geografis, tingkat stress, dan juga kesehatan sapi. “Di kandang ini ada 80 ekor sapi. Di antaranya sapi produksi ada 50 ekor. Per hari peternakan Cibugary menghasilkan 300 liter susu segar. Untuk waktu perahan susu dibagi menjadi dua kali yaitu pukul 05.00 WIB dan pukul 14.00 WIB,” ujarnya.

Sebelum diracik dan dikemas menjadi susu varian rasa, yoghurt dan keju mozzarella Cibughary, susu segar diperah dengan alat agar steril. Lalu, disaring pada wadah milkane dapat menampung 40 liter susu segar.

”Hasil olahan susu berprotein tinggi itu dapat menghasilkan tiga produk yaitu susu pateurisasi, yogurt, dan keju mozzarella lezat,” ungkapnya.

Tak sedikit konsumen dari pengusaha restoran, kedai susu, sekolah, pabrik dan konsumen lain. ”Untuk pemasaran kita 90 persen langsung konsumen. Sisanya 10 persen olahan juga,” katanya.

”Nilai jual susu murni Rp9 ribu per liter. Belum lagi kita memberikan subsidi ke koperasi karena kita anggota juga,” ujar Rahmat.

Di peternakan sapi itu, saat ini sudah memiliki 11 karyawan. Di antaranya 5 orang khusus mengurus perawatan, pemerahan, pakan kebersihan kandang sapi dan 6 orang lain mengelola manajemen dan produksi. ”Kita sudah buka mulai pukul 06.00-10.00 WIB lanjut pukul 14.00-17.00 WIB,” tambahnya.

Pihaknya sedang mengurus perizinan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab, usaha susu sapi itu, optimistis akan semakin besar. ”Kami akan ekspansi. Produksi lebih besar lagi,” harapnya.

”Bahkan kami berkeinginan warga negara asing yang turun dari Bandara tahunya Cibugary Sapi Perah Pondok Rangon, Jakarta Timur. Akhir tahun ini, biasanya sih banyak juga kunjungan keluarga dari Riau, Balikpapan dan Manado. Tapi karena Covid-19 jadi berkurang yah,” ujar Mughni.

Sebelum menutup obrolan hangat itu, bapak beranak tiga itu menambahkan, peternakan susu sapi akan terus mengedukasi pengunjung. Mulai sapi perah jenis Friesien Holstein (FH), memberi pakan, memerah dan memandikan sapi. ”Sampai dengan mengolah, konsumsi susu tentu sudah diolah dan dikemas,” tutupnya.(*)



Apa Pendapatmu?